Sediaan Semi Solid


TUGAS PENGANTAR TEKNOLOGI FARMASI
SEDIAAN SEMI SOLID
Kelompok 7
Lesra Indriani (1648201064)
Lioni Regina Pradipta (1848201011)
Lia Safitri Nada (1848201022)
Khairinnisa Aladha (1848201030)
Laduna Oktaviani (1848201038)
Jheni Ramayanti Utami (1848201057)

PROGRAM STUDI FARMASI
STIKES HARAPAN IBU JAMBI
TAHUN AKADEMIK 2019/2020


A.    Pengertian Sediaan Semi Solid
      Sediaan semi solid adalah sediaan setengah padat yang dibuat untuk tujuan pengobatan topikal melalui kulit. (Ardiansyah, 2012)
B.     Macam-macam Sediaan Semi Solid
1. Salep
            Salep (unguenta menurut FI edisi III) adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen kedalam dasar salep yang cocok. (Anonim,1979)

a. Peraturan Pembuatan Salep
·      Peraturan salep pertama
Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu dengan pemanasan
·      Peraturan salep kedua
Bahan-bahan yang larut dalam air, jika tiidak ada peraturan lain, dilarutkan terlebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep dan jumlah air yang dipakai, dikurangi dari basisi salepnya.
·      Peraturan salep ketiga
Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian ddapat larut dalam lemak dan air haruus diserbukan lebih dahulu, kemudian diayak dengan pengayak No.60
·      Peraturan Salep keempat
Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin, bahan-bahan yang ikut dilebur, penimbangannya harus dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan bobotnya.(Syamsuni,2006)
b. Persyaratan Salep
1. Pemberian: tidak boleh berbau tengik.
2. Kadar: kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras   atau obat narkotik, kadar bahan obat adalah 10%.
3. Dasar salep kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep (basis salep) digunakan vaselin putih (vaselin album). Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian salep.
4. Homogenitas: jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukan  susunan yang homogeny.
5. Penandaan: pada etiket harus tertera’’obat luar’’(Anonim,1979)
c. Jenis salep berdasarkan dasar salep
Ø  Salep hidrofobik yaitu salep yang tidak suka air atau salep dengan dasar salep berlemak tidak dapat dicuci dengan air: misalnya campuran lema-lemak, minyak-lemak,malam.
Ø  Salep hidrofilik: salep yang suka air atau kuat menarik air, biasanya dasar salep tipeM/A. (Syamsuni,2006)
d.   Kualitas dasar salep
Ø  Stabil, tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembapan dan selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas
Ø  Lunak,homogen
Ø  Mudah dipakai
Ø  Dasar salep yang cocok
Ø  Dapat terdistribusi secara merata (Pine & Andriani,2018)
                                          
      2. Krim

            Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dandimaksudkan untuk pemakaian luar (FI III). Krim didefinisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit. (Ansel,1989)
a.      Tipe krim (Astuti dkk, 2015)
Ada dua tipe krim, yaitu :
-          Tipe minyak dalam air (M/A)
            Tipe krim M/A merupakan krim yang fase luarnya air, jadi mudah dicuci dengan air atau tidak lengket atau meninggalkan noda pada pakaian. Contoh: vanishing cream.
-          Tipe air dalam minyak (A/M)
            Tipe krim A/M merupakan krim dengan fase luarnya minyak, tidak mudah dicuci dengan meninggalkan noda atau lengket pada pakaian serta tidak mudah mengering. Contoh: cold cream
b.      Formula sediaan krim
-          Zat berkhasiat
-          Fase minyak
-          Fase air
-          Pengemulsi
-          Zat tambahan
c.       Sifat dasar krim yang ideal
-          Tercampur dengan baik dengan bahan obat
-          Stabil dalam penyimpanan.
-          Mudah dicuci dengan air.
-          Mudah melepaskan bahan obat
-          Mudah diformulasikan
-          Reaksi netral
-          Tidak merangsang kulit.
-          Didalam sediaan secara fisik cukup halus dan kental
d.      Pembuatan krim secara umum (Astuti dkk, 2015)
·         Fase atau bagian lemaknya dilelehkan diatas water bath, fase atau bagian yang larut dalam air dicampur dengan air panas. Kedua bagian diatas dicampur dan digerus dalam lumpang panas sampai terbentuk basis krim.
·         Fase lemak dan fase air dipanaskan perlahan - lahan sampai terbentuk larutan sabun, kemudian digerus dalam lumpang panas sampai terbentuk masa krim. Cara ini dilakukan untuk krim dengan kadar lemak tinggi.
·         Zat yang larut dalam air ditambah 30% air, zat fase lemak dilelehkan bersama-sama. Kemudian tambahkan air panas dengan jumlah yang sama gerus homogen. Tambahkan fase lemak gerus sampai menyatu dan terakhir sisa air. Cara ini digunakan untuk krim dengan minyak tumbuh-tumbuhan.
e.       Keuntungan sediaan krim
1.      Mudah menyebar rata.
2.      Praktis.
3.      Lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe M/A (minyak dalam air).
4.      Cara kerja langsung pada jaringan setempat.
5.      Tidak lengket, terutama pada tipe M/A (minyak dalam air).
6.      Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun, sehingga pengaruh absorpsi biasanya tidak diketahui pasien.
7.      Aman digunakan dewasa maupun anak–anak.
8.      Memberikan rasa dingin, terutama pada tipe A/M (air dalam minyak).
f.       Kekurangan sediaan krim
1.      Mudah kering dan mudah rusak.
2.      Susah dalam pembuatannya.
3.      Mudah lengket, terutama tipe A/M (air dalam minyak).
4.      Mudah pecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas.
5.      Pembuatannya harus secara aseptik.

      3. Gel
            Gel merupakan sediaan semi padat yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Formulasi gel membutuhkan senyawa Gelling agent sebagai bahan pembentuk gel. Gelling agent atau bahan pembentuk gel merupakan komponen polimer yang mempunyai berat molekul tinggi dan merupakan gabungan dari beberapa molekul dan lilitan dari polimer yang akan memberikan sifat kental pada gel. Molekul-molekul polimernya berikatan melalui ikatan silang sehingga membentuk struktur jaringan tiga dimensi dengan molekul pelarut yang terperangkap dalam jaringan ini. (Danimayostu,2017)
            Berdasarkan jumlah fasenya gel dibedakan menjadi fase tunggal dan fase ganda. Gel fase tunggal dapat dibuat dari bahan pembentuk gel seperti tragakan, Na-Alginat, gelatin, metilselulosa, NA CMC, Karbopol, polifinil, alkohol, metilhidroksietil selulosa, hidroksietil selulosa dan polioksietilen-polioksipropilen. Gel fase ganda dibuat dari interaksi garam alumunium yang larut, seperti suatu klorida atau sulfat, dengan larutan ammonium, Na-karbonat, atau bikarbonat. Berdasarkan anorganik biasanya berupa gel fase tunggal dan mengandung polimer sintetik maupun alami sebagai bahan pembentuk gel, seperti karbopol, tragakan dan Na CMC. (Ansel, 1998)
a. Teknik pembuatan gel, yaitu :    
-          Metode pencampuran (incorporation)
      Sediaan gel dengan bahan obat larut dalam air atau minyak, maka dilarutkan terlebih dahulu kemudian larutan tersebut ditambahkan kedalam bahan pembawa bagian per bagian sambil diaduk sampai homogen. Bahan obat tidak larut, maka partikel bahan obat harus dihaluskan, dan kemudian disuspensikan kedalam bahan pembawa. (Sulaiman dan Rina, 2008)
-          Metode peleburan (fusion)
      Metode peleburan dilakukan dengan meleburkan atau memanaskan semua atau beberapa komponen dari formula, kemudian basis sambil didinginkan dan terus diaduk, apabila terdapat komponen yang labil terhadap panas maka komponen tersebut ditambahkan pada saat campuran komponen yang dileburkan sudah mencapai suhu yang cukup rendah atau suhu kamar. (Sulaiman dan Rina, 2008)
b. Syarat gel
·         Homogen
·         Memiliki viskositas tinggi
·         Memiliki daya lekat tinggi
·         Mudah merata bila dioleskan
·         Mudah dicuci dengan air
·         Memberikan rasa lembut saat digunakan
c. Keuntungan
·           Efek dingin pada kulit jika digunakan
·           Penampilan sediaan yang jernih dan elegan
·           Pada pemakaian dikulit setelah kering meninggalkan film tembus pandang
·           Mudah dicuci dengan air
·           Pelepasan obatnya baik
·           Kemampuan penyebarannya pada kulit baik. (Lachman,1994)
d. Kelemahan
·           Harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga diperlukan peningkatan kelarutan seperti surfaktan agar gel jernih pada berbagai perubahan temperatur.
·           Gel sangat mudah hilang ketika berkeringat
·           Kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi
·           Harga lebih mahal. (Lachman,1994)

      4. Pasta
            Sedian semi padat(masa lembek) yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditunjukan untuk pemakaina topical. Pasta ini serupa dengan salep hanya berbeda dalam konsitensinya, yaitu bahan padatan lebih dari50% dan kegunaannya. Misalnya pasta zinci oleosa. (Syamsuni,2006)
a. Bahan dasar pasta
Ø  Vaselin
Ø  Lanolin
Ø  Adeps lanae
Ø  Unguentum simpex
Ø  Minyak lemak
Ø  Paraffin liquid (Syamsuni,2006)
b. Ada dua kelompok utama pasta:
·      Kelompok pasta yang dibuat dari gel fase tunggal mengandung air. Ex: pasta natrium carboksimetilcellulosa(CMC)
·         Kelompok pasta berlemak, Ex: pasta zink oksida (Elmitra,2017)
c. Penggolongan pasta
1.      Pasta berlemak
adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat(serbuk). Sebagian bahan dasar salep digunakan vaselin, paraffin cair. Bahan tidak berlemak seperti glycerinum, mucilage atau sabun dan digunakan sebagai antiseptic atau pelindung kulit.
2.      Pasta kering
Suatu pasta bebas lemak mengandung 60% zat padat(serbuk).
3.      Pasta pendingin
Merupakan campuran serbuk minyak lemak dan cairan berair, dikenal dengan salep tiga dara.
4.      Pasta gigi
Digunkan untuk pelekatan pada selaput lender agar memperoleh efek local   misal,      pasata gigi triamsinolon asetonida) (Elmitra,2017)

      4. Lotio
            Lotion dapat didefinisikan sebagai krim encer. Lotion juga merupakan emulsi tetapi kandungan lilin dan minyaknya lebih rendah dibandingkan krim (Dep.Kes RI, 1978). Hal ini menyebabkan lotion lebih encer dan kurang berminyak. Lotion memberikan rasa nyaman dan baik pada kulit. Sebagai emulsi, lotion memiliki banyak kesulitan dalam pembuatannya seperti layaknya krim, tetapi lotion lebih mudah dibuat dibandingkan krim karena lebih encer, dan waktu pemanasan dan pendinginannya lebih singkat. (Rieger, 2000).
a. Macam-macam lotio:
-          Lotio dapat berbentuk solutio
-          Lotio dapat berbentuk suspensi
-          Lotio dapat berbentuk emulsi
b. Keunggulan
-          Mudah dicuci dengan air
-          Pemakaian yang cepat dan merata pada kulit
-          Daya sebar dan penetrasinya cukup tinggi
-          Tidak memberikan rasa berminyak
-          Memberi efek sejuk
-          Dosis yang digunakan lebih rendah dan kerja sistemnya rendah
c. Kekurangan
-          Penyimpanan lotio tidak tahan lama
-          Berisiko alergi
d. Komponen penyusun lotion (Wula,2018)
-          Pelembab              
-          Pengemulsi
-          Bahan pengisi
-          Pembersih
-          Bahan aktif
-          Pelarut
-          Pewangi
-          Pengawet

C.     Evaluasi Sediaan Semi Solid (Astuti dkk, 2015)
       1. Uji organoleptik
            Pemeriksaan organoleptis dilakukan untuk mengamati stabilitas fisik sediaan dengan melihat perubahan bentuk, warna dan bau yang mungkin terjadi selama penyimpanan.
       2. Uji homogenitas
            Uji homogenitas bertujuan untuk melihat dan mengetahui tercampurnya bahan-bahan sediaan krim.
      3. Uji pH
            Uji pH bertujuan mengetahuI keamanan sediaan saat digunakan sehingga tidak mengiritasi kulit.
4. Uji daya serap
            Uji daya serap untuk mengetahui kemampuan sediaan dalam menyerap air.
5. Uji daya sebar
            Uji daya sebar untuk mengetahui kelunakkan sediaan saat dioleskan kekulit.
6. Uji viskositas
            Pemeriksaan viskositas untuk memastikan tingkat kekentalan sediaan yang sesuai untuk penggunaan topikal. Viskositas sediaan krim diukur menggunakan Viskosimeter Brook Field LV dan Viskometer Ostwald tergantung kekentalan sediaan.

Referensi
Ardiansya, 2012. Sediaan Semisolid. Samata-Gowa
Astuti, Ardina Citra dkk. 2015. Makalah Teknologi Sediaan Semi Solid Liquid Pengertian Krim Dan Basis-Basis Krim. Jakarta : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Ansel, H.C., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi., Edisi 4.,1998.,Jakarta.,Universitas Indonesia., Hal 105,401.
Dewi, Christine Citra., Saptarini, Nyi Mekar. Hidroksi Propil Metil Selulosa dan Karbomer Serta Sifat Fisikokimanya Sebagai Gelling Agent. Padjadjaran: Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Farmaka Vol 14 Nomor 3
Danimayostu, Adeltrudis Adelsa., Shofiana, Nilna Maya., Permatasari, Dahlia. 2017. Pengaruh Penggunaan Pati Kentang (Solanum tuberosum) Termodifikasi Asetilasi-Oksidasi Sebagai Gelling Agent Terhadap Stabilitas Gel Natrium Diklofenak. Pharmaceutical Journal Of Indonesia 2017.3(1):25-32
Lachman, (1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. Jilid 2. Jakarta: UI Press. Hal. 1040, 1092-1094
Sulaiman, T.N. dan Kuswahyuning, R, 2008, Teknologi dan Formulasi Sediaan Sedian Semipadat, Pustaka Laboratorium Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Wula, Maria RW., 2018. Karakteristik dan Stabilitas Sediaan Lotion Ekstrak Etanol Kulit Batang Faloak (Sterculia sp). Karya Tulis Ilmiah: Poltekkes Kupang.
Depkes RI. (1978). Materia Medika Indonesia. Jilid II. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 149-150.
Rieger, M.M. 2000. Harry’s Cosmeticologi Eight Edition. New York : Chemical Publishing Co. Inc. Halaman 359.

Komentar

  1. Terimakasih, ilmunya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  2. MANTAP DAN BERMANFAAT TERIMAKASII

    BalasHapus
  3. Mntaap udah posting aja nie, semngat trus. Berbagi lh ilmu walaupun satu ayat

    BalasHapus
  4. Terimakasih, ilmunya sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  5. Terima kasih, ilmu nya sangat bermanfaat πŸ‘

    BalasHapus
  6. Terimakasih, ilmunya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  7. uwahhhh makasih infonyaa, sungguh membantu buat laporan

    BalasHapus
  8. Mantapp,sungguh sangat bermanfaat πŸ‘

    BalasHapus
  9. terima kasih infornya kak, lengkap dan sangat bermanfaat

    BalasHapus
  10. Terimakasihh, infonya sangat bermanfaat😊

    BalasHapus
  11. Terima kasih, infonya sangat bermanfaat😊

    BalasHapus
  12. Info yang bermanfaat πŸ‘

    BalasHapus
  13. Terima kasih kak. Ilmunya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  14. Terimakasih ilmunya bermanfaat.

    BalasHapus
  15. Terimakasih, sangat membantu sekali

    BalasHapus
  16. Terima kasih atas ilmunya
    Sangat bermanfaat

    BalasHapus
  17. Trimakasih, ilmunya sangat bermanfaat sekali...

    BalasHapus
  18. Terimakasih ilmunya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  19. Terimakasih infonya kak sangat bermanfaat

    BalasHapus
  20. Terimakasih ilmunya sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  21. Terimakasih. Ilmu yang sangat bermamfaat.

    BalasHapus
  22. Terimakasih, ilmunya sangat bermanfaat bagi kami semua

    BalasHapus
  23. Terimakasih sangat bermanfaat

    BalasHapus
  24. Terimakasih informasinya kaka🌸

    BalasHapus
  25. Terimakasih informasinya
    Semoga bermanfaat dan berkah
    Aamiin...

    BalasHapus
  26. Terima kasih, ilmu yang sangat bermanfaat πŸ‘

    BalasHapus
  27. Mantaap �� ilmunya bermanfaat ����

    BalasHapus
  28. Trimakasih kak,sangat bermanfaat

    BalasHapus
  29. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  30. wah penjelasannya detail sekali, baguss

    BalasHapus
  31. Bagus sekali,sangat bermanfaat

    BalasHapus
  32. Keren sekali semoga bermanfaat ya

    BalasHapus
  33. Mantap, tampilan nya menarik. Materi yang disampaikan juga jelas, terima kasih min

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metode Penelitian